Pencarian
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search

Pencarian
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search

Keywords

lampu  gigi  motor  stang  halo  kenal  piston  salam  

Keywords

kenal  lampu  salam  halo  piston  motor  gigi  stang  

Latest topics
» Dimana Jual Sparepart Kawasaki ZX 130?
Thu May 07, 2015 7:32 pm by satriadafit

» Jual SparePart Kawasaki ZX 130
Thu May 07, 2015 7:28 pm by satriadafit

» salam kenal
Fri Apr 17, 2015 2:01 pm by aburizq

» salam kenal
Fri Apr 17, 2015 2:00 pm by aburizq

» joZXy - Jogja Zx130 Community
Mon Jun 09, 2014 11:28 am by Rama ZX Jogja

» Nyaris di bobol maling !!!
Wed Mar 05, 2014 1:46 pm by ahmadalan

» D 130 DA, ngumpul yukkkk
Wed Mar 05, 2014 1:22 pm by ahmadalan

» Data Rider ZX-130 Worldwide... INTRODUCE YOURSELF HERE!
Wed Mar 05, 2014 1:18 pm by ahmadalan

» Daftar Part Kanibal Buat ZX130
Tue Feb 11, 2014 5:22 pm by kian2007

Latest topics
» Dimana Jual Sparepart Kawasaki ZX 130?
Thu May 07, 2015 7:32 pm by satriadafit

» Jual SparePart Kawasaki ZX 130
Thu May 07, 2015 7:28 pm by satriadafit

» salam kenal
Fri Apr 17, 2015 2:01 pm by aburizq

» salam kenal
Fri Apr 17, 2015 2:00 pm by aburizq

» joZXy - Jogja Zx130 Community
Mon Jun 09, 2014 11:28 am by Rama ZX Jogja

» Nyaris di bobol maling !!!
Wed Mar 05, 2014 1:46 pm by ahmadalan

» D 130 DA, ngumpul yukkkk
Wed Mar 05, 2014 1:22 pm by ahmadalan

» Data Rider ZX-130 Worldwide... INTRODUCE YOURSELF HERE!
Wed Mar 05, 2014 1:18 pm by ahmadalan

» Daftar Part Kanibal Buat ZX130
Tue Feb 11, 2014 5:22 pm by kian2007

December 2016
MonTueWedThuFriSatSun
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 

Calendar Calendar

December 2016
MonTueWedThuFriSatSun
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 

Calendar Calendar

Affiliates
free forum

Affiliates
free forum

Similar topics
Similar topics

Sawarna - Banten

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Sawarna - Banten

Post by kurokaze on Sun Nov 13, 2011 11:08 pm

WARNA WARNI DI SAWARNA


Kisah tentang dua orang anak manusia yang gagal mendaki gunung Salak 1, berputar arah menuju laut Banten. Sepanjang perjalanan, mereka menemukan banyak warna warni yang semakin menyadarkan mereka tentang arti hidup ini. Ya, hidup ini haruslah penuh warna!

Motor yang kami tumpangi rasanya sudah mau menjerit kencang seraya menggulingkan kami ketika melewati jalanan super keriting yang dilaburi oleh lumpur. Kiri kanan penuh dengan orang yang sibuk menggali pasir. Sesekali tersenyum ketika kami melintas. Sayang, panorama alam yang seharusnya elok habis dibabat oleh backhoe yang dengan rakusnya terus meraup pasir. Rasanya tidak percaya bahwa jalur serusak ini adalah jalan tingkat kabupaten dan satu-satunya akses menuju Tanah Baduy. Lho Tanah Baduy?

”Iya a.. kalo jalan ini mau ke Leuwidamar, tempatnya orang-orang Baduy.Kalau mau ke Bayah, aa salah jalan. Putar lagi di Rangkasbitung...” ujar seorang warga.

Rasanya kami juga ingin menjerit.


jalur leuwidamar


No Pain No Gain

Untuk menuju Bayah, bisa melalui Rangkasbitung, ibukota Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Namun ini dia sulitnya, sama sekali tidak ada petunjuk arah menuju Bayah dari Rangkasbitung. Seperti pepatah, malu bertanya sesat di jalan. Intinya, jangan sungkan bertanya arah menuju Bayah. Kalau yang ditanya tidak tahu, tanyakan saja arah menuju Malingping via Gunung Kencana.

Jalur Malingping via Jalur Gunung Kencana memang lebih dekat dibandingkan harus melalui jalur utama Rangkasbitung – Pandeglang – Saketi – Malingping. Menurut warga sekitar, memang lebih baik lewat Gunung Kencana, selain karena lebih dekat, juga jalurnya lebih ”jinak” dibandingkan jalur Saketi. Tapi sekali lagi, teruslah bertanya pada penduduk sekitar,agar kejadian nyasar seperti kami tidak terulang.

”Bagus aa lewat sini, kalau lewat Saketi, jauuuh,” ujar seorang warga lokal.

”Kalau jalurnya gimana? Rusak?”, tanya kami.

”Yah standarlah, lebih bagus dibanding lewat sana (Saketi),” jawabnya. ”Tapi yah di Banten emang gak ada jalur yang bagus sih,” tambahnya seraya berbisik.

Maka dimulailah petualangan kami di jalur antah berantah Gunung Kencana. Sebenarnya kalau mau dibilang jelek, tidak juga. Aspalnya lumayan bagus. Hanya saja, jalannya tidak terlalu lebar, dan penuh tikungan. Kami sering kaget ketika asik menikung sontak muncul truk-truk besar yang melintas, menghabiskan ¾ badan jalan.

Kami mulai dihadang jalur jelek ketika memasuki perkebunan sawit di Cileles. Jarak masih menunjukkan sekitar 80km lagi ke Malingping. Hujan mulai turun. Jalanan berubah menjadi kubangan. Coklat. Belum lagi lubang yang tidak terlihat karena tergenang air. Selama dua jam, kami disiksa di jalur GK, Gunung Kencana, atau lebih pantas disebut Garis Keras.


perkebunan sawit gunung kencana (Cileles)

Akhirnya kami bisa bernapas lega ketika sampai di Kota Malingping. Jalanan susur pantainya bagus. Tidak rusak. Pemandangan laut di kala senja mulai bisa menghibur mood kami yang dirusak oleh Gunung Kencana. Dari Malingping, terus saja susuri jalan raya pantai ke arah Timur sejauh 37km untuk mencapai Bayah.

Di Kota Malingping, terdapat pertigaan menuju Bayah dan Binuangeun. Jangan khawatir, pertigaan ini cukup jelas dan terdapat petunjuk arah. Nah jika mengambil arah ke Binuangeun, anda akan melewati hamparan pasir pantai yang cukup panjang.Tidak main-main, panjang pantainya 12km. Pasir pantainya cukup padat, sehingga bisa dilalui kendaraan bermotor. Inilah Pantai Bagedur, objek wisata utama di Malingping.

Mentari sudah terbenam ketika kami sampai di Malingping, sehingga kami tidak sempat bermain-main di Binuangeun. Kami langsung melarikan motor dengan kecepatan tinggi menuju Bayah. Takut kemalaman. Untunglah, dari Malingping menuju Bayah hanya memakan waktu kurang dari satu jam saja. Kami segera mencari penginapan untuk mengistirahatkan badan. Perjalanan sesungguhnya, akan kami mulai esok hari.


pesisir malingping


Babi Hutan Melintas, Buaya Muara Berjemur

Pagi menjelang. Matahari tidak terlihat. Mendung menyelimuti pesisir Banten, menyelimuti Bayah dengan rona kelabu. Kami mulai menyusuri jalanan pesisir pantai. Tujuan kami adalah Pantai Sawarna, yang terletak 19 km dari Kota Bayah. Perlahan jalanan mulai menanjak. Pemandangannya benar-benar memukau.

Kami menikmati pesisir selatan Banten dari atas bukit. Dibawah ombak berdebur-debur dengan ganas. Untunglah kondisi aspal jalan cukup baik. Namun sayangnya, jika malam tidak ada penerangan sama sekali. Parahnya lagi, di pinggir jalan yang langsung berbatasan dengan laut tidak ada pembatasnya. Bayangkan saja, jika ada yang ”kelewatan”, dipastikan akan langsung terjun jurang sedalam 50 meter dan langsung nyemplung di laut.

Setelah naik turun bukit, jalanan kembali menurun, melewati Objek Wisata Pantai Karang Taraje. Pantai ini terkenal dengan formasi karangnya yang berbentuk seperti tangga. Taraje sendiri dalam bahasa sunda berarti tangga. Pantai ini cukup ramai ketika kami sambangi. Penuh dengan anak-anak Pramuka yang sedang melakukan Perkemahan Sabtu Minggu.

Dari Pantai Karang Taraje, terus ikuti jalan raya hingga terdapat sebuah gapura besar. Jika ingin menuju Pantai Sawarna dari arah Bayah, kami harus berbelok disini. Tidak ada petunjuk jalan, patokannya hanya gapura ini. Maka telusurilah jalan tersebut. Kondisi jalan masih bagus hingga mencapai Objek Wisata Pulau Manuk.

Objek Wisata Pulau Manuk adalah sebuah pulau yang terpisah dari Pulau Jawa. Selain itu ada hamparan pasir putih tanpa karang. Panorama yang ditawarkan di cukup menawan. Namun disini ombaknya masih terbilang besar. Jika ingin bermain-main ke Objek Wisata ini, harus ekstra hati-hati, sebab pernah ada kasus wisatawan yang hanyut akibat arusnya yang terbilang besar.

Kami terus menyusuri jalan, melewati Objek Wisata Pulau Manuk. Dari sini, pemandangannya berubah. Tidak lagi terlihat pantai di pinggir jalan. Jalanan mulai menanjak dan menyempit. Kami mulai memasuki hutan. Tidak terbayang bahwa beberapa saat lalu kami menyusuri jalanan pinggir pantai. Sekarang suasana seketika berubah, ibarat sedang menyusuri jalanan di pegunungan yang berketinggian diatas 1000 meter.

Sedang asyik-asyiknya kami menyusuri jalan, tiba-tiba sekelebat bayangan hitam melintas. Makin didekati makin jelas. Ternyata seekor babi hutan sepanjang 1,5 meter dengan santainya melewati kami. Untung saja kami tidak langsung lewat di hadapannya. Bisa berantakan rencana perjalanan kami, akibat seekor babi hutan.

Selepas spot babi hutan tersebut, jalanan kembali menurun, masuk ke daerah Desa Sawarna. Perkebunan kelapa di kiri kanan jalan terus membentang. Kondisi jalanan kembali mendatar. Di sisi kami terlihat sebuah pantai yang terpisahkan oleh sebuah sungai. Ini dia Pantai Ciantir yang terkenal sebagai pusat surfing. Pasir putihnya membentang hingga 5 kilometer. Kondisi pantainya bersih tanpa karang.

Selain pantai Ciantir, ada juga objek wisata lain, yaitu Goa Langir. Untuk mencapainya, kami harus melalui jalan setapak yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan. Jika ingin menyusur Goa langir, jangan lupa mengajak penduduk lokal. Tentunya agar tidak nyasar kemana-mana. Sebab kalau nyasar, bahaya. Menurut cerita warga lokal, masih sering terlihat buaya muara di daerah ini. Jangan sampai niat masuk goa, malah masuk mulut buaya.


Uji Nyali di Jembatan Kawat

”STOP!!!”

”STOP aaa!! Kaliwaaaat!”

Kami bingung. Sedang enak-enaknya menyusuri jalanan desa yang terbilang mulus, tiba-tiba kami diteriaki warga sekitar. Apa salah kami? Memangnya kami terlalu ngebut? Akhirnya motor kami tepikan di sebuah warung. Ada rasa sedikit dag-dig-dug juga.

”Mau ke Pantai Ciantir yah a,,, masuknya dari sini...” ujar si aa penjaga warung.

“Lho, jadi masuknya lewat sini? Memangnya kalau terus...?”

”Kalau diterusin nanti aa ke Pelabuhan Ratu,” potongnya.

Kami memandang ke sekeliling. Ramai oleh pemuda desa yang berkumpul. Ternyata ada banyak penginapan homestay disini. Pantas saja ramai, ternyata ini dia pusat turisme di Sawarna. Selayang pandang, kami melihat sebuah jembatan gantung sepanjang 50 meter. Oh, rupanya itu dia jalan masuk ke pantainya, menyeberangi Sungai Ciantir. Ada sebuah plang kecil. Pantai Tanjung Layar, 2 kilometer lagi. Memang kecil papan petunjuknya, pantas saja tidak kelihatan.

”Aa, jadi kalau mau ke Pantai Sawarna lewat sini ya?” tanya saya kepada seorang pemuda yang juga sedang santai di warung.

”Oh, Sawarna itu nama Desa ini. Aa mau kemana? Pantai Ciantir, Tanjung Layar, atau Laguna Pari?”,ia balas bertanya.

“Itu a, yang ada karang besarnya,” ujar saya mengingat-ingat referensi sebuah foto yang saya lihat di internet.

”Oh itu Tanjung Layar, iya masuknya dari sini, seberangin jembatan, terus ikutin aja jalan desa. Pokoknya ujung jalan setapak. Disana ada warung juga, jadi enak kalau mau main disana,” ujar aa tersebut yang memperkenalkan dirinya Ujang.

Berarti kami harus parkir motor disini. Ada sebuah tempat parkir yang dipenuhi mobil ber-plat B. Banyak juga turis yang kesini.

”Kalau naik motor, bawa aja motornya ke dalam, biar cepat sampe,” ujar Ujang lagi.

HAH! Jadi kami harus melewati jembatan gantung tersebut. Tadi babi hutan, sekarang jembatan gantung. Masa sih?

Sedang bingung-bingungnya membayangkan melewati jembatan gantung tersebut, tiba-tiba saja seorang warga lokal dengan santainya melewati jembatan gantung tersebut dengan motornya. Jembatan terus bergoyang liar, namun si bapak nampaknya tenang-tenang saja.

”Tuh kan kuat. Kalau sudah biasa sih enak, kalau aa takut, sini saya bantu,” ujar Ujang terkekeh.

Kata-kata tersebut ibarat menantang nurani saya. Baiklah, kalau motor besar si bapak saja bisa lewat, masa motor bebek saya tidak bisa. Maka motor saya nyalakan, saya arahkan lajunya menuju jembatan kawat selebar 1,5 meter itu.

”Eeh, Bayar dulu kang!,” ujar seseorang di pinggir jembatan. ”Tiket masuk ke daerah Ciantir, Rp.2000 seorang,” tambahnya. Saya lihat, tiket tersebut ditandatangani oleh Kepala Desa Sawarna, berarti resmi.

Tiket saya kantongi. Mulut mulai berdoa. Gas mulai dipelintir perlahan. Nah melaju mulus di di awal jembatan. Mulai berguncang-guncang ketika di tengah jembatan. Makin ke tengah-makin terasa guncangannya. Ada rasa takut jembatan ini bakal putus. Di bawah, sungai kecoklatan mengalir perlahan. Di hadapan saya, seberang sungai, ada warga desa yang menunggu giliran untuk lewat.

Motor saya percepat, gas saya pelintir makin dalam. Eeeh jembatannya makin berguncang. Alhasil, saya stop dulu laju motor di tengah-tengah jembatan, menunggu guncangan reda.

”Oi cepetan! Itu ada yang mau lewat!” ujar kawan saya yang sudah sampai di seberang.

Akhirnya, lima menit yang mendebarkan itu saya lalui. Namun guncangannya tetap terasa hingga lima belas menit kemudian. Saya merasa tanah yang saya pijak terus bergoyang.


mau ke tanjung layar... lewatin ini dolo!


Gigi Seri, Gigi Taring, dan Jalur Tank


panoramic assault tj.layar

Pernahkan anda melihat pantai yang dataran karangnya rata bergaris-garis ibarat papan gilesan untuk mencuci, atau seperti bekas digilas tank? Bukan hanya itu, entah dari mana tiba-tiba muncul dua buah karang besar setinggi 20 meter ibarat gigi seri dan gigi taring. Di belakang kedua gigi tonggos tersebut deburan ombak terus menderu-deru. Menghempas karang dengan ganasnya hingga memuncratkan air hingga empat meter ke udara. Inilah Grand-Destination kami. Pantai Tanjung Layar.

Sebelumnya, marilah saya bawa anda mundur sejenak. Selepas jembatan gantung yang tadi kami lewati, kami memasuki perkampungan Sawarna. Jalurnya hanya jalur beton yang hanya bisa dilalui satu motor. Penduduk yang santai di perkampungan tersebut nampaknya tak acuh dengan kehadiran kami. Sudah terbiasa dengan turis sepertinya. Sepanjang perkampungan, banyak homestay yang bertebaran.

Menurut Ujang, jika ingin menginap di Sawarna, banyak homestay yang menawarkan fasilitas lengkap. Macam AC dan TV juga ada yang menyediakan. Tarifnya di rentang 150-200ribu. Itu bukan per kamar, tapi per-orang. Mahal? Sepertinya tidak, sebab kita disediakan makanan lengkap tiga kali sehari. Mau menu ikan atau seafood lain? Tinggal minta dibuatkan saja!

Kembali ke perjalanan kami, selepas perkampungan, kami langsung tiba di perkebunan kelapa. Jalur betonnya sudah habis, berganti dengan jalur setapak, perpaduan antara pasir pantai dan lumpur. Sesekali, kami melewati pematang sawah. Lucu juga, ada sawah diantara pepohonan kelapa yang melambai-lambai tertiup angin.

Langit mulai menyiram kami dengan air ketika kami sedang santai-santainya menyusuri perkebunan kelapa. Mana bisa kami berteduh di bawah pohon kelapa. Terlihat gubuk-gubuk di pinggir pantai yang kosong. Maka kami arahkan motor menuju gubuk-gubuk tersebut untuk berteduh sejenak.


badai kebun kelapa

Deru motor ternyata mengusik seorang bapak yang sedang berteduh di rumah kosong yang terletak tepat di samping gubuk tempat kami berteduh. Ia menghampiri kami seraya menanyakan kemana tujuan kami. Ternyata bapak tersebut adalah seorang nelayan, dan rumah-rumah yang berada di daerah tersebut adalah komplek Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sawarna. Namun, seluruhnya sedang kosong. Tak ada hiruk pikuk nelayan yang mengangkut ikan seperti umumnya TPI-TPI lain.

”Anginnya sedang kencang,” ujar nelayan tersebut. ”Tak bisa melaut,” seraya memandang laut.

”Dulu ini gubuk-gubuk dibuat pemerintah kabupaten buat wisatawan. Tapi setelah dibuat bagus-bagus seperti ini, malah tidak ada yang datang. Jadinya terbengkalai,” ujarnya.

Sayang juga, padahal gubuk-gubuk macam saung ini tertata rapi. Sayangnya, sekarang kondisinya sudah rusak dimakan usia. Lantainya sudah keropos. Untung atap dan tiang-tiangnya masih kokoh. Nasib gubuk sebelah lebih mengenaskan. Memang masih kokoh, tapi atapnya sudah jebol. Padahal pemandangan ke pantainya sangat bagus.

Hujan sedikit mereda. Kami menyempatkan diri bermain-main sejenak di Pantai Ciantir. Bersih sekali pantainya. Wajar, yang kesini saja jarang. Nun jauh di Barat, masih terlihat Pulau Manuk yang kami lewati. Jauh di horison, terlihat dataran yang memanjang.

”Itu daerah Jampang,” ujar si bapak nelayan.

Ternyata laut yang ada di hadapan kami sudah termasuk teluk Pelabuhan Ratu. Laut yang terkenal akan hasil lautnya yang melimpah, bukti kekayaan bahari Indonesia. Namun entah mengapa raut si bapak masih muram. Apakah karena nasib nelayan yang erat dengan kemiskinan, atau sekedar karena ia tidak bisa melaut. Si bapak pamit, lalu hanya berlalu, menuju pasir lembut, dimana ia menambatkan perahunya yang tidak bisa melaut.

Hujan yang sebelumnya mengguyur ternyata membuat jalur yang kami lewati semakin hancur. Penuh lumpur. Sesekali kawan saya perlu turun dari motor untuk membantu mendorong motor yang terjeblos ke lumpur. Lambat laun, dua buah karang tonggos mulai terlihat di balik pepohonan. Gas motor saya pelintir lebih dalam. Bukan karena semangat sudah dekat, tapi karena lumpur yang semakin dalam. Tanpa tenaga yang kuat, bisa-bisa kami tersangkut disana hingga sore.


makin ngaco aja lumpurnya

Akhirnya sampailah kami ke Tanjung Layar. Sebenarnya kalau tidak terkena iklan seperti tadi, kami bisa saja sampai dalam waktu sekitar lima menit dari perkampungan Sawarna. Hanya saja, hujan deras dan medan yang berat membuat waktu tempuh molor menjadi hampir setengah jam. Kami langsung menuju warung terdekat. Sekedar beristirahat sejenak, dan memesan teh manis hangat.


sampe juga gan!

Tatapan saya terus terpaku pada dua buah karang tinggi yang menjulang di hadapan kami. Seakan-akan ada yang yang menanam. Tumbuh begitu saja. Saya makin takjub ketika mendekati karang layar tersebut. Setelah melewati kolam air laut selutut. Saya sampai di sebuah pelataran luas ibarat lapangan. Karang, tapi rata. Di beberapa titik, ada galur-galur yang membuatnya terlihat seperti tanah lembek yang baru dilintasi tank. Yang bisa memahat seperti ini, tentulah hanya Allah SWT. Subhanallah.


dataran karangnya.. ibarat jalur tank, papan gilesan, ato dada arip


kenapa dinamakan tanjung layar? liat aja... karangnya dah kayak ketiup angin, oleng

Iseng memutari karang tersebut, saya sampai di pinggir laut. Ini dia uniknya lagi. Laut lepas seakan dibentengi oleh pagar alami yang mencegah ombak menghempas langsung ke karang layar. Namun ketika ombak datang menerjang, semburat hempasannya menjulang hingga empat meter. Bukti dari keganasan laut selatan.

Karena penasaran, saya dan kawan saya berusaha memanjat karang tersebut. Baru sepertiganya, kami sudah menyerah. Batuannya ringkih dan mudah terkelupas. Belum lagi ada batu-batu yang tajam. Selain itu angin yang menerpa cukup kencang. Makin lama, makin kencang. Akhirnya hujan turun lagi. Deras. Kami segera berlari menuju warung. Basah kuyup. Saya baru teringat kalau tadi memesan teh manis hangat.

”Kelamaan. Sudah dingin.”

Warna Warni


mission complete

Hujan turun semakin deras. Angin semakin menderu-deru kencang. Ombak semakin ganas menampar-nampar karang.

”Sekarang lagi musim angin kencang. Ombaknya bisa sampai lima meter,” ujar seorang warga yang kebetulan berada di warung juga.

Kami masih terkesima menatap hempasan ombak yang tinggi, yang menjadi latar dari layar-layar yang kokoh menantang angin tersebut. Beberapa saat lalu, kami masih berada di karang tersebut, ibarat plak yang menempel di gigi. Kami sadar, betapa ringkihnya manusia, baru dihantam hujan seperti ini, sudah lari berhamburan mencari tempat berteduh. Sang karang, entah sudah berapa juta tahun ia menyongsong laut. Panas terik, hujan badai, ia tetap kokoh menjulang tidak peduli. Mengejek sang badai.

Badai mereda. Kami bersiap pulang. Lumpurnya pasti semakin lembek. Jalurnya pasti makin kacau. Kami tidak peduli,sebab kami harus kembali. Perjalanan ke Sawarna, Bayah, telah memberikan banyak pelajaran bagi kami. Sawarna, bermakna satu warna. Namun, banyak warna warni yang kami dapatkan sepanjang perjalanan ini. Birunya laut. Putihnya pasir pantai. Hitamnya batu karang. Lembayung mentari senja. Hijaunya perbukitan. Kelabunya awan mendung. Hingga tentu saja, coklatnya lumpur kental.

Perjalanan yang jauh, medan yang sulit, badan pegal-pegal kelelahan, pikiran stres karena nyasar berkali-kali, mengingatkan saya pada kehidupan manusia, yang sama-sama merupakan sebuah perjalanan panjang. Terkadang kita tidak tahu, apakah ”jalan” yang kita lalui akan mulus atau rusak. Terkadang kita juga tidak tahu, kalau kita sudah nyasar, hingga suatu ketika akan ada yang mengingatkan kita, bahwa kita sudah nyasar.

Jangan payah! Beranikan diri anda berwisata ke Bayah! Pastilah anda akan menemukan warna-warni yang tidak anda temukan di kehidupan sehari-hari. Warna-warni yang akan membawa kita merenungkan kembali tentang hidup yang telah, atau akan kita lalui. Warna-warni yang sepertinya tidak akan kita temui di kehidupan sehari-hari.

Namun coklat adalah warna yang sepertinya akan terus terngiang-ngiang di pikiran saya. Sebab sesampainya di rumah pakaian saya masih berlumuran lumpur!

(episode bayah – tamat – )


point of no return,, KEMANA MANA JAOOOH!!!


kota bayah, dilihat dari tebing


teluk pelabuhan ratu


pantesan aja mas haris semangat bener pengen ke bayah Twisted Evil


ROUTE INFO


jalur merah etape 1 ciputat-rangkasbitung (120km ), banyak nyasarnya (JALUR MODERATE!)

jalur biru etape 2 rangkasbitung - bayah (130 km), sempet nyasar juga di cimarga, dan disiksa sama gunung kencana (JALUR EXTREME!)

jalur putih (gak keliatan) etape 3 bayah - tj.layar - bayah (40 km), maen2 puter2 susur jalur pantai lewat kebon kelapa dan jalanan berlumpur (JALUR EXTREME!)

jalur pink etape 4 bayah - plb.ratu (80 km), pemandangan bagus, naek gunung, laut dibawah, kondisi aspal bagus, tapi naek turunnya ga nahan, terjal dan curam (JALUR MODERATE!)

jalur ungu etape 5 plb.ratu - cipedak (150 km), lewat jalur cikidang yang gak setandar, jalur aspal bagus, tapi naik turunnya curam, dan tikungannya mantap kalo emang cornering freak nanti ketemu sama jalan gede di cibadak... kalo sabtu minggu emang rada macet tuh jalur akses sukabumi-bogor... kebanyakan optimus prime (sama mamang rodanya keitung 22) lalu lalang... (JALUR GOOD!)

total jarak (estimasi tidak pasti) --> 520 km

total bensin ---> Rp.85.000 (premium)

total penginapan ---> Rp. 75.000/kamar (muat 4-5 orang)


Terakhir diubah oleh kurokaze tanggal Sun Nov 13, 2011 11:27 pm, total 2 kali diubah

kurokaze

Posts : 23
Points : 9304
Reputation : 0
Join date : 13.11.11

Kembali Ke Atas Go down

Re: Sawarna - Banten

Post by torQ on Sun Nov 13, 2011 11:20 pm

racun touring mulai ditebar ... Jurnalis Gendheng ....

Rolling Eyes Rolling Eyes Rolling Eyes

torQ

Posts : 12
Points : 9282
Reputation : -1
Join date : 13.11.11

Kembali Ke Atas Go down

Re: Sawarna - Banten

Post by kurokaze on Sun Nov 13, 2011 11:27 pm

torQ wrote:racun touring mulai ditebar ... Jurnalis Gendheng ....

Rolling Eyes Rolling Eyes Rolling Eyes

menunggu tulisan MANG TORQ deee

kurokaze

Posts : 23
Points : 9304
Reputation : 0
Join date : 13.11.11

Kembali Ke Atas Go down

Re: Sawarna - Banten

Post by ZX Bogor on Mon Nov 14, 2011 1:50 am

setiap session touring di buat per room..
info nya jadi tuntass
touring yg kang Tyo nd the geng di upload kang...
Very Happy

ZX Bogor
Admin

Posts : 9
Points : 9279
Reputation : 0
Join date : 12.11.11

Kembali Ke Atas Go down

Re: Sawarna - Banten

Post by kurokaze on Mon Nov 14, 2011 5:42 am

ZX Bogor wrote:setiap session touring di buat per room..
info nya jadi tuntass
touring yg kang Tyo nd the geng di upload kang...
Very Happy

jadi ntar kalo ane taro yang CIE, 1 tulisan 1 trit aja ya? lumayan tuh soalnya 1 tulisan kalo masuk word sampe 7-8 halaman

kurokaze

Posts : 23
Points : 9304
Reputation : 0
Join date : 13.11.11

Kembali Ke Atas Go down

Re: Sawarna - Banten

Post by Sponsored content Today at 2:40 pm


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik